Jumat, 17 Desember 2010 | By: Lusiana Indrasari

Resensi Novel Dunia sophie

Judul Asli: Sophie’s World
Judul terjemahan : Dunia Sophie
Pengarang: Jostein Gaarder
Tebal : 561 halaman
Penerbit : Mizan
Tahun Terbit :1996
Harga  :  Rp. 68,000,-
Sinopsis Novel:

Alkisah berputar di sekitar seoran gadis kecil berusia 14 tahun bernama Sophie Amundsen. Dia adalah seorang gadis yang hidup bersama ibunya sementara ayahnya yang seorang kapten kapal tidak dapat menemaninya di rumah. Awalnya, kehidupannya terbilang wajar seperti kebanyakan anak seumurannya yang pada umumnya lebih senang bermain. Kehidupan Sophie mendadak berubah semenjak ia mendapatkan sebuah surat misterius dari orang yang mengaku namanya sebagai Alberto Knox. Entah siapa orang itu, namun setiap hari surat-surat berisi pelajaran filsafat datang padanya. Selama berkala, Sophie memperoleh pendidikan filsafat dengan cara yang unik dari seorang yang sebelumnya sama sekali tidak di kenalnya. Dan seiring dengan bertambahnya pelajaran filsafat yang diperoleh, Sophie pun semakin penasaran dengan guru filsafatnya. Terlebih lagi, nama Sophie berada dalam percakapan kartu-kartu pos aneh yang dikirim oleh Albert Knag kepada Hilde Knag di kediaman Alberto Knox. Entah kenapa, dua orang tersebut seperti sangat mengenal Sophie sementaa tidak bagi Sophie untuk mengenal keduanya. Apakah ini ada kaitannya dengan pelajaran filsafat aneh yang diterimanya dari oang bernama Alberto Knox? Ataukah jangan-jangan ada rencana terselubung di balik pelajaran filsafatnya yang aneh? Semua misteri tersebut akan terjawab pada akhir cerita bertumpuk yang tak terduga alurnya.

Dalam buku ini, Jostein Gaarder menyajikan pelajaran filsafat dengan sangat unik. Seperti menganalogikan lego sebagai pemainan tercerdas yang pernah ada, topi pesulap yang dapat mengeluarkan kelinci, seekor kutu yang berada jauh tertutupi rambut, dan lain-lainnya dengan ilmu-ilmu filsafat yang populer di dunia. Terlebih lagi bahasa yang digunakan untuk ukuran ‘buku filsafat’ tergolong mudah untuk dicerna sehingga pembaca akan lebih merasa seperti sedang membaca novel ketimbang sedang belajar filsafat. Oleh karena itu, bagi kalian yang kurang menyukai filsafat, barangkali dapat menikmati alur cerita yang tidak mudah ditebak hingga akhir cerita. Kisah kehidupan Sophie akan bertumpuk dengan pelajaran-pelajarn filsafat yang diperoleh Sophie sehingga terkesan wajar jika dibaca.

Pun, sayangnya filsafat tetaplah filsafat. Tidak semua orang menyukai bacaan filsafat. Meskipun ada kemungkinan orang yang tidak menyukai filsafat akan menyukai novel ini, tidak dapat dipungkiri pula bahwa filsafat membutuhkan pemahaman yang mendalam sehingga hanya membaca novel ini tidak dapat menjadikan seseorang mampu menjadi ahli filsafat.

Jostein Gaarder adalah seorang penulis bekebangsaan Norwegia. Buku Dunia Sophie merupakan bukunya yang  dianggap paling sukses setelah diterjemahkan ke dalam lima puluh tiga bahasa di dunia. Jadi, bagi kalian yang memang suka berpetualang di alam buku, Dunia Sophie dijamin memenuhi kualifikasi sebagai buku yang wajib untuk dibaca.
 
Komentar dari berbagai sumber tentang novel ini:

"Anda sudah lama ingin tahu apa filsafat, tetapi selalu tidak sempat, terlalu kabur, terlalu abstrak, terlalu susah, terlalu bertele-tele? Bacalah buku manis ini di mana Sophie, anak putri 14 tahun, menjadi terpesona karenanya."
—Prof. Franz Magnis-Suseno

"Kata banyak orang, filsafat itu sulit. Siapa bilang? Bacalah buku Dunia Sophie ini, dan Anda akan tahu, filsafat itu amat mudah dipahami. Makin Anda membaca buku ini, makin Anda ketagihan untuk berfilsafat. Anda tak perlu lagi mengerutkan dahi karena filsafat ternyata juga bisa dinikmati sebagai novel yang enak dibaca."
—Dr. Sindhunata

"Menikmati filsafat seasyik membaca cerita detektif, itulah yang ditawarkan Gaarder dalam buku ini. Sejarah filsafat selama dua setengah milenium menjadi bahan perbincangan dengan seorang anak. Saat Anda menemukan pelakunya bersama anak ini, Anda sudah banyak mencicipi filsafat."
—Dr. F. Budi Hardiman, Penulis buku Filsafat Modern

"Novel ini berkisah tentang pergulatan para filsuf dalam bertanya, berdebat, dan merenung pelbagai jawaban kehidupan. Cara berkisah novel ini sungguh memikat dan pasti membuat pembaca awam semakin 'kepincut' untuk membacanya tanpa jeda."—Donny Gahral Adian, M.Hum., Ketua Jurusan Filsafat Universitas Indonesia

Dunia Sophie adalah pengantar ke dunia filsafat yang paling menarik karena disajikan dalam bentuk cerita setengah detektif. Seru, tegang, mendebarkan, namun mencerahkan! Jangan lewatkan buku ini!"
—Jansen H. Sinamo, Guru Etos Indonesia

"Pengungkapan alur pikir filsafat menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah untuk dipahami masyarakat awam filsafat. Uraian filsafat dalam buku ini tidak menghilangkan substansi pendapat masing-masing filsuf."
—Dr. Abbas Hamami Mintaredja, Dekan Fakultas Filsafat UGM

"Pertama-tama, bayangkan sebuah buku pengantar filsafat untuk pemula, ditulis oleh seorang guru SMA. Kemudian bayangkan sebuah novel fantasi—semacam versi modern Through the Looking Glass. Padukan dua genre yang sangat berbeda ini, dan apa yang Anda peroleh? Ternyata sebuah best-seller internasional."
—Time

"Cerita yang sangat menghibur dan imajinatif, membungkus sebuah pesan filosofis yang menantang pikiran."
—Daily Mail

"Luar biasa … Jostein Gaarder berhasil meringkas 3.000 tahun sejarah pemikiran; menyederhanakan argument-argumen yang sangat rumie tanpa merusaknya. Benar-benar prestasi hebat!"
—The Sunday Times

"Mengagumkan. Sebuah novel misteri yang cerdas dan menggemaskan, yang kebetulan juga merupakan sebuah sejarah filsafat.
—The Washington Post Book World

"Dunia Sophie benar-benar menyenangkan. Andai saja ada buku semacam ini ketika saya belajar filsafat di perguruan tinggi!"
—Madeleine L'Engle, penulis Wringkle in Time 
 

Kelebihan dan Kekurangan novel:
 
Pada Dunia Sophie, pembaca diajak untuk mengenal mitos-mitos yang melatar belakangi sampai timbulnya pemikiran-pemikiran kritis dari para filsuf, dimana mitos Yunani yang cukup kita kenal, dan bermuara pada pemikiran Democritus, Socrates, Plato, Aristoteles, kemudian masuk pada abad pertengahan, Renaisans, Jaman Barok yang terkenal dengan musik dan seni arsitekturnya, melaju ke Rene Descartes sampai ke Emmanuel Kant, dan diakhiri dengan pemikiran Freud.
Di buku ini, pembaca diajak oleh pengarang untuk memahami secara cukup detil tentang pemikiran-pemikiran para filsuf dan beberapa faham pemikiran seperti Helenisme,Deisme, Teisme, Panteisme dan apa itu Ateisme.
Pada halaman 345, memang ada sedikit kekurangjelasan dalam menguraikan mengenai Deisme:....Yang kita maksudkan dengan Deisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan menciptakan dunia berabad-abad yang lalu, tetapi tidak pernah menampakkan dirinya ke dunia sejak itu........
Di sini penulis buku agak kedodoran dalam menceritakan secara gamblang apa itu Deisme.
Saya mencoba untuk menjelaskan dengan bahasa sederhana, Deisme itu memandang Tuhan itu seperti tukang pembuat jam, yang mana apabila tukang jam telah selesai membuat jam, dan jam itu akan berputar sendiri secara otomatis, jam tersebut pasti tidak membutuhkan campur tangan tukang jam lagi.
Pandangan faham Deisme, Tuhan cukup menciptakan dunia dengan segala isinya, dan dunia atau ciptaan tersebut tidak lagi membutuhkan campur tangan Tuhan selanjutnya, dan Tuhan tinggal duduk manis karena tidak punya pekerjaan lagi, alias finish bin selesai.
Itulah sedikit kekurangan dari buku tersebut, tetapi secara keseluruhan, buku ini sangat menyenangkan dan bermanfaat bagi para pemula yang ingin belajar tentang filsafat itu sendiri.
Selamat membaca dan jangan lupa anda harus kembali ke dunia nyata.

Saran:
untuk anda yang menyukai dunia filsafat anda bisa mencoba untuk membaca novel ini.
karena dalam novel ini kita bisa belajar dengan mudah mengenai filsafat yang sebagian orang banyak menyebutnya sebagai ilmu yang sulit dipahami.

0 komentar:

Posting Komentar