Jumat, 17 Desember 2010 | By: Lusiana Indrasari

Kunanti Dalam Janji Setia


"Hidup ini indah karena Cinta"

Canda dan tawamu kembali terngiang dalam sanubariku..
Hati kecil ini ingin meronta karena kerinduan...
Rasa yang tertahan bagaikan tertimpa langit...
Ingin kukerahkan semua tuk lepas dari ini semua...
Namun apa daya, semua itu sia-sia belaka...

Sayangku, aku tak sanggup menahan rindu ini...
Beratnya hatiku tuk lepaskan dirimu...
Yang jauh dan kutakut tuk kehilanganmu...
Duhai sayangku, katakanlah padaku...
Bilakah kau datang dan bersamaku kembali..

Walaupun 1000 tahun, aku kan tetap menantimu...
Walau bumi goncang, cinta ini takkan pernah goyah..
Segala keraguanku tak tersirat karena cintamu
Janji yang kita pegang bersama takkan lepas...
Selama kita saling percaya dan setia..

Oh kasih, pabila saatnya tiba kau kembali..
Aku kan datang dan berlari dalam jalan itu...
Tuk menggapai dirimu yang tlah aku rindukan....
Sampai jiwaku tak mampu bernafas lagi...
Engkau kan tetap jadi hiasanku....
Selamanya hingga aku mati....

Resensi Novel Dunia sophie

Judul Asli: Sophie’s World
Judul terjemahan : Dunia Sophie
Pengarang: Jostein Gaarder
Tebal : 561 halaman
Penerbit : Mizan
Tahun Terbit :1996
Harga  :  Rp. 68,000,-
Sinopsis Novel:

Alkisah berputar di sekitar seoran gadis kecil berusia 14 tahun bernama Sophie Amundsen. Dia adalah seorang gadis yang hidup bersama ibunya sementara ayahnya yang seorang kapten kapal tidak dapat menemaninya di rumah. Awalnya, kehidupannya terbilang wajar seperti kebanyakan anak seumurannya yang pada umumnya lebih senang bermain. Kehidupan Sophie mendadak berubah semenjak ia mendapatkan sebuah surat misterius dari orang yang mengaku namanya sebagai Alberto Knox. Entah siapa orang itu, namun setiap hari surat-surat berisi pelajaran filsafat datang padanya. Selama berkala, Sophie memperoleh pendidikan filsafat dengan cara yang unik dari seorang yang sebelumnya sama sekali tidak di kenalnya. Dan seiring dengan bertambahnya pelajaran filsafat yang diperoleh, Sophie pun semakin penasaran dengan guru filsafatnya. Terlebih lagi, nama Sophie berada dalam percakapan kartu-kartu pos aneh yang dikirim oleh Albert Knag kepada Hilde Knag di kediaman Alberto Knox. Entah kenapa, dua orang tersebut seperti sangat mengenal Sophie sementaa tidak bagi Sophie untuk mengenal keduanya. Apakah ini ada kaitannya dengan pelajaran filsafat aneh yang diterimanya dari oang bernama Alberto Knox? Ataukah jangan-jangan ada rencana terselubung di balik pelajaran filsafatnya yang aneh? Semua misteri tersebut akan terjawab pada akhir cerita bertumpuk yang tak terduga alurnya.

Dalam buku ini, Jostein Gaarder menyajikan pelajaran filsafat dengan sangat unik. Seperti menganalogikan lego sebagai pemainan tercerdas yang pernah ada, topi pesulap yang dapat mengeluarkan kelinci, seekor kutu yang berada jauh tertutupi rambut, dan lain-lainnya dengan ilmu-ilmu filsafat yang populer di dunia. Terlebih lagi bahasa yang digunakan untuk ukuran ‘buku filsafat’ tergolong mudah untuk dicerna sehingga pembaca akan lebih merasa seperti sedang membaca novel ketimbang sedang belajar filsafat. Oleh karena itu, bagi kalian yang kurang menyukai filsafat, barangkali dapat menikmati alur cerita yang tidak mudah ditebak hingga akhir cerita. Kisah kehidupan Sophie akan bertumpuk dengan pelajaran-pelajarn filsafat yang diperoleh Sophie sehingga terkesan wajar jika dibaca.

Pun, sayangnya filsafat tetaplah filsafat. Tidak semua orang menyukai bacaan filsafat. Meskipun ada kemungkinan orang yang tidak menyukai filsafat akan menyukai novel ini, tidak dapat dipungkiri pula bahwa filsafat membutuhkan pemahaman yang mendalam sehingga hanya membaca novel ini tidak dapat menjadikan seseorang mampu menjadi ahli filsafat.

Jostein Gaarder adalah seorang penulis bekebangsaan Norwegia. Buku Dunia Sophie merupakan bukunya yang  dianggap paling sukses setelah diterjemahkan ke dalam lima puluh tiga bahasa di dunia. Jadi, bagi kalian yang memang suka berpetualang di alam buku, Dunia Sophie dijamin memenuhi kualifikasi sebagai buku yang wajib untuk dibaca.
 
Komentar dari berbagai sumber tentang novel ini:

"Anda sudah lama ingin tahu apa filsafat, tetapi selalu tidak sempat, terlalu kabur, terlalu abstrak, terlalu susah, terlalu bertele-tele? Bacalah buku manis ini di mana Sophie, anak putri 14 tahun, menjadi terpesona karenanya."
—Prof. Franz Magnis-Suseno

"Kata banyak orang, filsafat itu sulit. Siapa bilang? Bacalah buku Dunia Sophie ini, dan Anda akan tahu, filsafat itu amat mudah dipahami. Makin Anda membaca buku ini, makin Anda ketagihan untuk berfilsafat. Anda tak perlu lagi mengerutkan dahi karena filsafat ternyata juga bisa dinikmati sebagai novel yang enak dibaca."
—Dr. Sindhunata

"Menikmati filsafat seasyik membaca cerita detektif, itulah yang ditawarkan Gaarder dalam buku ini. Sejarah filsafat selama dua setengah milenium menjadi bahan perbincangan dengan seorang anak. Saat Anda menemukan pelakunya bersama anak ini, Anda sudah banyak mencicipi filsafat."
—Dr. F. Budi Hardiman, Penulis buku Filsafat Modern

"Novel ini berkisah tentang pergulatan para filsuf dalam bertanya, berdebat, dan merenung pelbagai jawaban kehidupan. Cara berkisah novel ini sungguh memikat dan pasti membuat pembaca awam semakin 'kepincut' untuk membacanya tanpa jeda."—Donny Gahral Adian, M.Hum., Ketua Jurusan Filsafat Universitas Indonesia

Dunia Sophie adalah pengantar ke dunia filsafat yang paling menarik karena disajikan dalam bentuk cerita setengah detektif. Seru, tegang, mendebarkan, namun mencerahkan! Jangan lewatkan buku ini!"
—Jansen H. Sinamo, Guru Etos Indonesia

"Pengungkapan alur pikir filsafat menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah untuk dipahami masyarakat awam filsafat. Uraian filsafat dalam buku ini tidak menghilangkan substansi pendapat masing-masing filsuf."
—Dr. Abbas Hamami Mintaredja, Dekan Fakultas Filsafat UGM

"Pertama-tama, bayangkan sebuah buku pengantar filsafat untuk pemula, ditulis oleh seorang guru SMA. Kemudian bayangkan sebuah novel fantasi—semacam versi modern Through the Looking Glass. Padukan dua genre yang sangat berbeda ini, dan apa yang Anda peroleh? Ternyata sebuah best-seller internasional."
—Time

"Cerita yang sangat menghibur dan imajinatif, membungkus sebuah pesan filosofis yang menantang pikiran."
—Daily Mail

"Luar biasa … Jostein Gaarder berhasil meringkas 3.000 tahun sejarah pemikiran; menyederhanakan argument-argumen yang sangat rumie tanpa merusaknya. Benar-benar prestasi hebat!"
—The Sunday Times

"Mengagumkan. Sebuah novel misteri yang cerdas dan menggemaskan, yang kebetulan juga merupakan sebuah sejarah filsafat.
—The Washington Post Book World

"Dunia Sophie benar-benar menyenangkan. Andai saja ada buku semacam ini ketika saya belajar filsafat di perguruan tinggi!"
—Madeleine L'Engle, penulis Wringkle in Time 
 

Kelebihan dan Kekurangan novel:
 
Pada Dunia Sophie, pembaca diajak untuk mengenal mitos-mitos yang melatar belakangi sampai timbulnya pemikiran-pemikiran kritis dari para filsuf, dimana mitos Yunani yang cukup kita kenal, dan bermuara pada pemikiran Democritus, Socrates, Plato, Aristoteles, kemudian masuk pada abad pertengahan, Renaisans, Jaman Barok yang terkenal dengan musik dan seni arsitekturnya, melaju ke Rene Descartes sampai ke Emmanuel Kant, dan diakhiri dengan pemikiran Freud.
Di buku ini, pembaca diajak oleh pengarang untuk memahami secara cukup detil tentang pemikiran-pemikiran para filsuf dan beberapa faham pemikiran seperti Helenisme,Deisme, Teisme, Panteisme dan apa itu Ateisme.
Pada halaman 345, memang ada sedikit kekurangjelasan dalam menguraikan mengenai Deisme:....Yang kita maksudkan dengan Deisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan menciptakan dunia berabad-abad yang lalu, tetapi tidak pernah menampakkan dirinya ke dunia sejak itu........
Di sini penulis buku agak kedodoran dalam menceritakan secara gamblang apa itu Deisme.
Saya mencoba untuk menjelaskan dengan bahasa sederhana, Deisme itu memandang Tuhan itu seperti tukang pembuat jam, yang mana apabila tukang jam telah selesai membuat jam, dan jam itu akan berputar sendiri secara otomatis, jam tersebut pasti tidak membutuhkan campur tangan tukang jam lagi.
Pandangan faham Deisme, Tuhan cukup menciptakan dunia dengan segala isinya, dan dunia atau ciptaan tersebut tidak lagi membutuhkan campur tangan Tuhan selanjutnya, dan Tuhan tinggal duduk manis karena tidak punya pekerjaan lagi, alias finish bin selesai.
Itulah sedikit kekurangan dari buku tersebut, tetapi secara keseluruhan, buku ini sangat menyenangkan dan bermanfaat bagi para pemula yang ingin belajar tentang filsafat itu sendiri.
Selamat membaca dan jangan lupa anda harus kembali ke dunia nyata.

Saran:
untuk anda yang menyukai dunia filsafat anda bisa mencoba untuk membaca novel ini.
karena dalam novel ini kita bisa belajar dengan mudah mengenai filsafat yang sebagian orang banyak menyebutnya sebagai ilmu yang sulit dipahami.

Kategori gejala pada Bahasa Indonesia

Gejala Bahasa atau Peristiwa Bahasa
Gejala bahasa atau peristiwa bahasa itu di antaranya ialah:
(1) Adaptasi, penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah fonologis, kaidah ortografis, atau kaidah morfologis

Contoh :
  • vyaya menjadi biaya
  • pajeg menjadi pajak
  • voorloper menjadi pelopor
  • fardhu menjadi perlu
  • igreja menjadi gereja
  • voorschot menjadi persekot
  • coup d'etat menjadi kudeta
  • postcard menjadi kartu pos
  • certificate of deposit menjadi sertifikat deposito
  • mass producIion menjadi produkmassa
(2) Analogi, pembentukan kata berdasarkan contoh yang telah ada.

Contoh :
  • Berdasarkan kata 'dewa-dewi' dibentuk kata :
    putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari, pramugara-pramugari
  • Berdasarkan kata 'industrialisasi' dibentuk kata :
    hutanisasi, Indonesianisasi
  • Berdasarkan kata 'pramugari' dibentuk kata :
    pramuniaga, pramuwisata, pramuria, pramusaji,pramusiwi
  • Berdasarkan kata 'swadesi' dibentuk kata :
    swadaya, swasembada, swakarya, swasta, swalayan
  • Berdasarkan kata 'tuna netra' dibentuk kata :
    tuna wicara, tuna rungu, tuna aksara, tuna wisma, tuna karya, tuna susila, tuna busana.
(3) Anaptiksis (Suara Bakti), penyisipan vokal e pepet untuk melancarkan ucapan Disebut juga suara bakti.
Contoh:
  • sloka menjadi seloka
  • srigala menjadi serigala
  • negri menjadi negeri
  • ksatria menjadi kesatria
(4) Asimilasi, proses perubahan bentuk kata karena dua fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir sama.

Contoh:
  • in-moral menjadi immoral
  • in-perfect menjadi imperfek
  • al-salam menjadi asalam
  • ad-similatio menjadi asimilasi
  • in-relevan menjadi irelevan
  • ad-similatio menjadi asimilasi
(5) Disimilasi, kebalikan dari asimilasi, yaitu perubahan bentuk katam yang terjadi karena dua fonem yang sama dijadikan berbeda.
Contoh :
saj jana menjadi sarjana
sayur-sayur menjadi sayur-mayur
(6) Diftongisasi, perubahan bentuk kata yang terjadi karena monoftong diubah menjadi diftong.Jadi kebalikan monoftongisasi.
Contoh :
  • sentosa menjadi sentausa
  • cuke menjadi cukai
  • pande menjadi pandai
  • gawe menjadi gawai
(7) Monoftongisasi, perubahan benluk kata yang terjadi karena perubahan diftong (vokal rangkap) menjadi monoftong (vokal tunggal)
Contoh :
  • autonomi menjadi otonomi
  • autobtografi menjadi otobiografi
  • satai menjadi sate
  • gulai rnenjadi gule
(8) Sandi (Persandian), perubahan bentuk kata yang terjadi karena peleburan dua buah vokal yang berdampingan, dengan akibat jutmlah suku kata berkurang satu.
Contoh :
  • keratuan menjadi keraton
  • kedatuan menjadi kedaton
  • sajian menjadi sajen
  • durian menjadi duren
Perhatikan jumlah suku kata!

ke - ra - tu - an ~> ke - ra - ton
1     2     3     4        1    2      3

du - ri- an ~> du - ren
 1     2   3        1     2


(9) Hiperkorek,
pembetulan bentuk kata yang sebenarnya sudah betul, sehingga hasilnya justru salah.
Contoh :
  • Sabtu menjadi Saptu
  • jadwal menjadi jadual
  • manajemen menjadi menejemen
  • asas menjadi azas
  • surga menjadi sorga
  • Teladan menjadi tauladan
  • izin menjadi ijin
  • Jumat menjadi Jum'at
  • kualifikasi menjadi kwalifikasi
  • frekuensi menjadi frekwensi
  • kuantitas menjadi kwantitas
  • November menjadi Nopember
  • kuitansi menjadi kwitansi
  • mengubah menjadi merubah
  • februari menjadi Pebruari
  • persen menjadi prosen
  • pelaris menjadi penglaris
  • system menjadi sistim
  • teknik menjadi tehnik
  • apotek menjadi apotik
  • telepon menjadi telfon
  • ijazah menjadi ijasah
  • atlet menjadi atlit
  • nasihat menjadi nasehat
  • biaya menjadi beaya
  • perusak menjadi pengrusak
  • zaman menjadi jaman
  • koordinasi menjadi kordinasi
(10) Kontaminasi, disebut juga kerancuan, yaitu kekacauan dimana dua pengertian yang berbeda, atau perpaduan dua buah struktur yang seharusnya tidak dipadukan.
Contoh :
  • berulang-ulang dan berkali-kali menjadi berulang-kali
  • saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi saudara-saudara sekalian
  • musnah dan punah menjadi musnah
(11) Metatesis, pergeseran kedudukan fonem, atau perubahan bentuk kata karena dua fonem alau lebih dalam suatu kata bergeser tempatnya.
Contoh :
  • rontal menjadi lontar
  • anteng menjadi tenang
  • usap menjadi sapu
  • palsu menjadi sulap
  • keluk menjadi lekuk
(12) Protesis,perubahan fonem di depan bentuk kata asal.
Contoh :
  • lang menjadi elang
  • mak menjadi emak
  • mas menjadi emas
  • undur menjadi mundur
  • stri menjadi istri
  • arta menjadi harta
  • alangan menjadi halangan
  • sa menjadi esa
  • atus menjadi ratus
  • eram menjadi peram
(13) Epentesis, perubahan bentuk kata yang terjadi karma penyisipan fonem ke dalam kata asal
Contoh :
  • baya menjadi bahaya
  • bhayamkara menjadi bhayangkara
  • gopala menjadi gembala
  • jur menjadi jemur
  • bahasa menjadi bahasa.
(14) Paragog, perubahan bentuk kata karena penambahan fonem di bagian akhir kata asal.
Contoh :
  • mama, bapa menjadi mamak dan bapak
  • pen menjadi pena
  • datu menjadi datuk
  • hulu bala menjadi hulubalang
  • boek menjadi buku
  • abad menjadi abadi
  • pati menjadi patih
  • bank menjadi bangku
  • gaja menjadi gajah
  • conto menjadi contoh.
(15) Aferesis, penghilangan fonem di awal bentuk asal.
Contoh :
  • adhyaksa menjadi jaksa
  • empunya menjadi punya
  • sampuh menjadi ampuh
  • wujud menjadi ujud
  • bapak menjadi pak
  • ibu menjadi bu.
(16) Sinkop, penghilangan fonem di tengah atau di dalam kata asal.
Contoh :
  • laghu menjadi lagu
  • vidyadhari menjadi bidadari
  • pelihara menjadi piara
  • mangkin menjadi makin
  • niyata menjadi nyata
  • utpatti menjadi upeti.
(17) Apokop,
penghilangan fonem di akhir bentuk kata asal.
Contoh :
  • sikut menjadi siku
  • riang menjadi ria
  • balik menjadi bali
  • anugraha menjadi anugerah
  • pelangit menjadi pelangi.
(18) Kontraksi, gejala pemendekan atau penyingkatan suatu frase menjadi kata baru.
Contoh :
  • tidak ada menjadi tiada
  • kamu sekalian menjadi kalian
  • kelam harian menjadi kemarin
  • bagai itu menjadi begitu
  • bagai ini menjadi begini.

    Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera, pada dasarnya termasuk gejala kontraksi.
(19) Nasalisasi,
atau penyengauan, proses penambahan bunyi sengau atau fonem nasal, yaim /m/, /n/, /ng/, den /ny/.
Contoh :
  • me baca menjadi membaca
  • pe duduk menjadi penduduk
  • pe garis menjadi penggaris.
(20) Palatalisasi, penambahan fonem palatal /y/ pada suatu kata ketika kata ini dilafalkan.
Contoh :
pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia, yang masing-masing dilafalkan /iya/, /priya/, /diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi muncul di antara vokal /i/ dan /a/ yang digunakan berdampingan.
(21) Labialisasi, penambahan fonem labial /w/ di antara vokal /u/ dan /a/ yang berdampingan pads sebuah kata.
Contoh :
pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita lafalkan
kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebut
timbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,
(22) Onomatope,
proses pembentukan kata berdasarkan tiruan bunyi-bunyi.
Contoh :
  • hura-hura dari hore-hore.
  • aum (suara harimau)
  • meong (suara kucing)
  • embik (suara kambing)
  • desis (suara ular)
  • desah (suara napas)
  • ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari atau palu)
(23) Haplologi, proses perubahan bentuk kata yang berupa penghilangan satu suku kata di tengah-tengah kata.
Contoh :
  • samanantara menjadi sementara
  • mahardhika menjadi merdeka
  • budhidaya menjadi budaya
Kamis, 09 Desember 2010 | By: Lusiana Indrasari

Puisi… Cinta Dan Kesetiaan

Seorang wanita bertanya 
pada seorang pria tentang cinta dan harapan

Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia
Dan pria berkata ingin menjadi matahari.
Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari,
bukan kupu kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga…

Wanita berkata ingin menjadi rembulan
dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari.
Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu,
tetapi pria ingin tetap jadi matahari….

Wanita berkata ingin menjadi Phoenix…
yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari,
dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari….

Wanita tersenyum pahit dan kecewa.
Wanita sudah berubah tiga kali…
namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari,
tanpa mau ikut berubah bersama wanita.
Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali
tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari….

Pria merenung sendiri dan menatap matahari
Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari
agar bunga dapat terus hidup
Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga
agar ia tumbuh, berkembang.. .
dan terus hidup sebagai bunga yang cantik.
Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh
dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga.
Ini disebut KASIH….. yaitu memberi tanpa pamrih

Saat wanita jadi bulan,
pria tetap menjadi matahari….
agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi.
Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari,
tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan,
siapakah yang ingat kepada matahari?

Matahari rela memberikan cahayanya untuk bulan
walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan…
dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaannya
sebagai pemberi cahaya
agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut….
Ini disebut dengan PENGORBANAN
menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.

Saat wanita jadi phoenix yang dapat terbang tinggi,
jauh ke langit bahkan di atas matahari…
Pria tetap selalu jadi matahari
agar phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau
dan matahari tidak akan mencegahnya

Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh,
namun matahari akan selalu menyimpan
cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix
Matahari selalu ada untuk phoenix kapan pun ia mau kembali
walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari

Tidak akan ada makhluk lain selain phoenix
yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya….
Ini disebut dengan KESETIAAN
walaupun ditinggal pergi dan dikhianati,
namun tetap menanti dan mau memaafkan

Untuk para wanita…..
Siapakah Matahari yang ada di dalam kehidupanmu?
Bila engkau sudah menemukan dan melihat Matahari dalam kehidupanmu. ..
Pergi, lihat dan jangan pernah meninggalkannya.

Kegagalan Bukan Akhir dari Perjalanan

Perjalanan manusia penuh dengan lika-liku
Selalu berbeda tanpa batas ruang dan waktu
Kegagalan kadang kala menyakitkan kalbu
Jika tiada pembimbing bagi hati yang pilu

Ketika akhir dari tujuan tidak menjadi milik anda
Hanya keikhlasanlah yg menolong pedihnya jiwa
Tatkala kegagalan terus membayangi langkah kita
Pasrahkanlah segalanya pada Sang maha Bijaksana

Percayalah bahwa Sang Pencipta maha mengetahui
Sehingga sanubari senantiasa berdzikir tanpa henti
Renungkanlah makna hidup setiap insan di dunia ini
Niscaya kebahagiaan akan merasuk dalam ruang hati

Kegagalan bukan akhir dari suatu perjalanan
Karna ia hanya sebatas ujian dalam kehidupan
Kerinduan akan kebahagiaan selalu didapatkan
Bagi seorang yg berfikir bahwa hidup adalah ujian

Jadilah hamba Allah yang baik saat menyikapi segala cobaan
Sehingga jiwa yang tenang menghampiri nuansa kebahagiaan
Tataplah masa depan melalui doa dalam langkah kemenangan
Karna tiada hal yang sia-sia dalam setiap jalan pengorbanan.
Jumat, 26 November 2010 | By: Lusiana Indrasari

TITIP RINDU BUAT AYAH

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
Rabu, 17 November 2010 | By: Lusiana Indrasari

KATA BAKU BERIKUT CONTOHNYA

NAMA : LUSIANA INDRASARI
KELAS : 3KA06
NPM : 12108202



Bahasa merupakan salah satu alat untuk mengadakan interaksi terhadap manusia yang lain. Jadi bahasa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Dengan adanya bahasa kita kita dapat berhubungan dengan masyarakat lain yang akhirnya melahirkan komunikasi dalam masyarakat. Karena wilayah pemakaiannya yang amat luas dan penuturnya yang beragam, bahasa Indonesia pun mempunyai banyak ragam. Berbagai ragam bahasa itu tetap disebut sebagai bahasa Indonesia karena semua ragam tersebut memiliki beberapa kesamaan ciri. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna pada umumnya sama. Itulah sebabnya kita dapat saling memahami orang lain yang berbahasa Indonesia dengan ragam berbeda walaupun kita melihat ada perbedaan perwujudan bahasa Indonesianya.

Bahasa Indonesia mempunyai sebuah aturan yang baku dalam pengguanaanya, namun dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan dari aturan yang baku tersebut. Kata-kata yang menyimpang disebut kata non baku. Hal ini terjadi salah satu penyebabnya adalah faktor lingkungan. Faktor ini mengakibabkan daerah yang satu berdialek berbeda dengan dialek didaerah yang lain, walaupun bahasa yang digunakannya terhadap bahasa Indonesia.

Adapun yang dimaksud dengan bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok, yang diajukan dasar ukuran atau yang dijadikan standar.Ragam bahasa ini lazim digunakan dalam:

1. Komunikasi resmi, yakni dalam surat menyurat resmi, surat menyurat dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, perundang-undangan, penamaan dan peristilahan resmi, dan sebagainya.

2. Wacan teknis seperti dalam laporan resmi, karang ilmiah, buku pelajaran, dan sebagainya.

3. Pembicaraan didepan umum, seperti dalam ceramah, kuliah, pidato dan sebagainya.

4. Pembicaraan dengan orang yang dihormati dan sebagainya.

Pemakaian (1) dan (2) didukung oleh bahasa baku tertulis, sedangkan pemakaian (3) dan (4) didukung oleh ragam bahasa lisan. Ragam bahasa baku dapat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Memiliki kemantapan dinamis yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Di sini, baku atau standar berarti tidak dapat berubah setiap saat.
2. Bersifat kecendikiaan. Sifat ini diwujudkan dalam paragraf, kalimat, dan satuan-satuan bahasa lain yang mengungkapkan penalaran dan pemikiran yang teratur, logis dan masuk akal
3. Keseragaman. Di sini istilah “baku” dimaknai sebagai memiliki kaidah yang seragam. Proses penyeragam bertujuan menyeragamkan kaidah, bukan menyeragamkan ragam bahasa, laras bahasa, atau variasi bahasa.

Contoh ejaaan baku dan tidak baku :

TIDAK BAKU BAKU
- kalo kalau
- karir karier
- kongkrit konkret
- nomer nomor
- apotik apotek
- atlit atlet
- azas asas
- bis bus
- ijin izin
- jaman zaman






KALIMAT TIDAK BAKU DAN BAKU

A. KALIMAT TIDAK BAKU
1. Sebelum mengarang terlebih dahulu tentukanlah tema karangan.
2. Pertandingan itu akan berlangsung antara Regu A melawan Regu B.
3. Kita perlu pemikiran-pemikiran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pengembangan kota.
4. Semua peserta daripada pertemuan itu sudah pada hadir.
5. Kami menghaturkan terima kasih atas kehadirannya.
6. Mengenai masalah ketunaan karya perlu segera diselesaikan dengan tuntas.

B. KALIMAT BAKU
1. Sebelum mengarang, tentukanlah tema karangan.
2. Pertandingan itu akan berlangsung antara Regu A dan Regu B.
3. Kita memerlukan pemikiran untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pengembangan kota.
4. Semua peserta pertemuan itu sudah hadir.
5. Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Saudara.
6. Masalah ketunakaryaan perlu segera diselesaikan dengan tuntas.